Aeromodelling Indonesia - PB FASI

Translation

English Filipino French German Korean Russian Spanish Thai Ukrainian Vietnamese

AMI PB FASI Sporting Code

Clubs Activity

Visitors

Today7
Yesterday388
This week1647
This month8709
Since 20059770539

  • IP: 107.22.118.242
  • Browser: Unknown
  • Browser Version:
  • Operating System: Unknown

2
Online

Friday, 22 September 2017 00:40

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

       Glider A2 adalah jenis pesawat layang model yang  menerbangkannya dengan ditarik dengan tali yang panjangnya tertentu ( 15-25 meter ) . Didalam FAI sporting code, perlombaan glider A2 diberi kode internasional F1A yang dimasukan ke dalam katagori terbang bebas yang tidak dikendalikan.

 

       Walaupun istilahnya tidak dapat dikendalikan secara aktif dari bawah, pesawat model ini masih boleh diperlengkapi  dengan berbagai perangkat pengendalian otomatis ataupun yang diaktifkan dengan gelombang radio secara “non repeatable “ (tidak bisa diulang ).

 

      Sejak awal perkembang-annya hingga saat ini beribu desain glider A2 sudah dibuat dan diterbangkan  diarena aeromodeling. Desain model lama seperti yang digunakan oleh para pramuka udara di tahun 60-an mempunyai sayap yang relatif pendek dengan struktur kerangka yang tidak terintegerasi. Di era komposit sekarang ini  model glider A2 desain mutakhir di-buat dari struktur karbon , komposit , titanium yang terkenal ringan namun kuat.

 

Model Prestasi Tinggi    

 

      Untuk berlatih prestasi mencapai target,hal pertama yang terpenting untuk kita perhatikan adalah model yang akan kita pergunakan yakni glide A2, terutama dari desain aerodinamis dankonstruksinya. Hal ini penting mengingat bahwa yang dimaksudkan latihan prestasikali ini adalah latihan untuk memaksimalkan penerbangan pesawat model kita yang secara natural prestasinya sudah dibatasi oleh desain aerodinamikanya.   

 

      Sehingga apabila kita menggunakan yang dirancang bukan untuk prestasi tinggi (high performance ) maka hasil latihan prestasi kita juga tidak akan dapat mencapai target yang diharapkan, sebagai contoh bila kita mentargetkan dapat memasukan 60% penerbangan kita mencapai waktu 120 detik ternyata model tersebut rata-rata hanya dapat melayang selama 45 detik mengingat bahwa desainnya yang memang kurang mendukung pencapaian prestasi tersebut, khususnya dari aspek aerodinamikanya.

 

      Model glider A2 yang berprestasi tinggi dapat dengan mudah dikenali dari desain sayapnya yans dalam hal ini adalah Aspek Ratio, planform dan struktur penyangganya.

Model yang menulis katagorikan berprestasi tinggi saat ini  mempunyai sayap yang luasnaya mendekati 29 dm persegi dengan bentang sayap lebih panjang atau sama dengan 210 cm. Sayap model seperti ini diperkirakan berasio kelangsingan (Aspek Ratio ) sekitar 15 atau lebih. Planform sayapnya berbentuk doble trapel sehingga mempunyai distribusi gaya anggkat yang hampir seragam, serta konturuksi kerangkanya menggunakan sparcar dan web.

 

Tidak boleh lebih dari 430 gram

           

Dengan model beraspek ratio tinggi (diatas 15) model diharapkan mempunyai kemampuan melayang denga kecepatan turan minimum (minimum sink rate) yang rendah sehingga model dapat melayang dalam waktu lama di udara (endurance). Hal ini didukung denga luas sayapnya yang sekitar 29 dm persegi dan beratnya yang mendekati batas minimum yang diperbolehkan yakni 410 gram. Dengan beban sayap (wing loading ) yang minimum model glider A2 yang berprestasi tinggi akan dapat melayang dengan kecepatan rata-rata 4.5 m/detik atau sekitar 16 cenderung menggunakan metoda pengetriman terbang. Dalam metoda ini model ditarik dengan tali penarik dan kemudian dilepaskan terbang seperti ketika menerbangkan seperti biasa, namun pelayangan model sudah diset hanya sekitar 10 hingga 15 detik saja dengan cara mengatur perangkat dethetmalisernya untuk aktif dalam tempo sekitar 25 detik. Waktu penarikan dalam hal ini diperkirakan adalah sekitar 10 detik.

 Latihan penarikan  

      Berbagai kandisi alam baik kecepatan maupun arah angin serta kondisi areal penerbangan akan sangat mempengruhi penarikan model gliderA2 kita ini. Meskipun demikian, kita sebagai seorang aeromodeler yang mencintai dunia terbang bebas ini tidak boleh terlalu mudah menyerah kalah jika situasinya kurang menguntungkan untuk penarikan model glider A2. Sebagai contoh kecepatan angin yang lambat atau bahkan angin tidak bertiup sama sekali kita memerlukan penarikan model dengan berlari cepat,sedang sebaliknya jika menarik model dengan anginbertiup kencang, mungkin kita malah perlu berjalan mundur ataupun diam ditempat.

 LowSpeed Towing

      Jika angin bertiup cukup kencang yakni berkecepatan sekitar 20 km/jam atau lebih maka maka di tali penarik akan cukup kuat yakni antara 500 gram hingga 1000 gram.jika kondisinya demikian kita sebaiknya mengurangi kecepatan langkah kita bahkan kalau perlu berhenti atau berjalan mundur sambil mengamati penanjakan model kita tersebut. Keterlambatan mengurangi kecepetan penarikan seringkali menyebabkan model mengalami pembebenan yang besar pada sayap serikali patah.

 Circling Flight

      Gider A2 memang selalu ditrim untuk terbang berputar (clicling flight ) gunanya adalah untuk menjaga agar model tidak terlalu jauh melayang selama periode pelayangan yang ditentukan. Di samping itu pelayang putar juga akan membuat model melayang masuk ke dalam daerah thermal yang seringkali tidak terlalu luas cakupannya.

Untuk latihan prestasi kita harus mengatur model glider A2 kita untuk dapat melayang berputar dalam radius sekitar 10 meter dengan sayap yang tidak terlalu “ bank “. Sayap yang terbang dalam kondisi miring (bank) dalam penerbangan berputar cenderung kurang efisien sebab akan bekerja dengan rasio peluncuran efektif (effective lift to drag ratio) yang lebih kecil.

Over Trim Drag

Salah datu gejala yang seering tidak dapat dimengerti oleh para aeromodeler pemula adalah kondisi yang disebut Over Trim Drag. Kondisi ini menunjukan gejala prestasi pelayangan model kita yang merosot drastis akibat kurang singkronnya atau berlebihannya trim pada model. Kalau biasanya kita melihat model kita meluncur dengan rasio 12:1 kemudian di suatu saat kita merasakan model kita cepat sekali turun dan kita cepat sekali turun dan kita perkirakan meluncur dengan rasio yang jauh lebih buruk misalnya 6:1, maka kita dapat memperkirakan gejala over trim drag ini telah terjadi.

      Untuk mengatasi gejala ini kita sebaiknya langsung mengamati sayap dalam arah bentang yang barankali twist ataupun posisi stabilo yang terpasang miring melawan arah perputaran model kita. Dalam beberapa kasus posisi CG yang terlalu kebelakang juga membuat gejala over trim drag ini muncul pada model prestasi tinggi.

Zooming

      Penarikan dengan zoomimg pada akhir lintasan tariknya semula memang ditujukan untuk melontarkan model kita ketinggian yang lebih tinggi ketimbang hanya dilepaskan di ujung tali yang panjangnya tertentu tersebut. Dengan ketinggian yang hanya lebih tinggi diharapkan model akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk masuk ke dalam thermal. Namun sayang apabila pelaksanaan zooming tersebut tidak dilaksanakan dengan tepat maka hasilnya bukannya ketinggian yang lebih baik melainkan tandesi model ke arah stall yang justru merugikan.

Anda yang berlatih prestasi sebaiknya mencoba berbagai metoda dan arah lintasan zooming agar hasilnya justru mengantar model mencapai pelayangan maksimal, namun aman.  

Circling Towing

      Juga sebaiknya anda perlu mempelajari penarikan dengan diselingi terbang berputar atau circling towing. Keuntungan dari penggunaan circle tow hook ada-lah tali penarik tidak akan terlepas dari kait jika kita tidak melakukan zooming terakhir. Ini berarti kita masih akan dapat mengulangi penarikan jika model tidak kita lepaskan ke dalam thermal dengan zooming ataupun kita tidak yakin akan adanya thermal di daerah tersebut.

 Tip Stall

      Gejala lain yang kurang menguntungkan namun sering ditemukan pada penerbangan model prestasi tinggi adalah gejala tip stall. Gejala ini sering muncul mengingat bahwa model berprestasi tinggi pada umumnya dirancang untuk mempunyai sayap yang distribusi koefisien gaya angkatnya hampir seragam. Akibatnya apabila terjadi sedikit twist dibagian tepian sayap (wing tip) baik akibat apabila terjadi aerodynamic twist ataupun mechanical twist, maka gejala tip stall akan muncul secara jelas. Salah satu upaya yang biasanya dialkukan untuk mengeliminasi gejala tip stall adalah dengan menunda stall pada bagian sayap tepi dengan perangkat turbulator ataupun dengan memberi sedikit wash out. 

Spiral dive

      Gangguan lain yang tak kalah konyol adalah gejala yang disebut sebagai Spiral Dive atau menukik dengan lintasan spiral. Pada umumnya gejala ini muncul apabila model terlalu dipaksa untuk berputar dalam radius kecil.  Biasanya dengan pembelokan rudder yang terlalu besar ataupun kurang proporsional dibandingkan dengan posisi stsabilo maka gejala spiral dive ini terjadi. Metoda yang biasanya dipergunakan untuk menetralisir gejala ini adalah dengan mengurangi belokan rudder dan atau mengurangi sudt pasang stabilo model sedikit “up”.

Berlatih Mendeteksi Thermal

      Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya dalam latihan prestasi menerbangkan glider A2 adalah berlatih mendeteksi kehadiran thermal. Dengan sedikit mengenal tanda-tanda kehadiran thermal seperti halnya dijabarkan di halaman 122 buku “ Merancang, Membuat dan Menerbangkan Pesawat Layang Model” tebitan gramedia, seorang penerbang glider A2 berprestasi tinggi akan semakin mudah menerbangkannya modelnya hingga waktu maksimum. Penulis bahkan pernah mencoba menerbangkan model A2 jam 17.15 sore hari ketika gejala kehadiran therm muncul walau sebenarnya tidak terlalu kuat. Hasilnya.

Berlatih dengan partner

Memang salahsatu hal yang dianjurkan dalam latihan glider A2 adalah berlatih dengan partner, dengan adanya rekan yang juga dapat mengevaluasi prestasi anda pada saat latihan.

 

Apa dethermaliser itu?

Perangkat yang dikenal dengan sebutan dethermaliser atau disingkat D/T, sebenarnya dirancang untuk menghentikan penerbangan pesawat layang model, khususnya yang termasuk ke dalam kelompok model terbang bebas, mengingat bahwa memang model jenis ini tidaklah akan dapat turun dengan sendirinya apabila sudah terbawa aliran udara naik (thermal).

Biasanya perangkat determaliser ini bekerja dengan bantuan pembatas waktu (timer) dan mengaktifkan sistim kendali sedemikian rupa sehingga pesawat yang terbang dalam kondisi superstall yakni suatu kondisi penerbangan yang sedemikian rupa, sehingga daya angkatnya sama besar dengan gaya tahannya. Keadaan yang demikian ini menyebabkan pesawat layang akan meluncur sekitar 45 derajat. Kondisi penerbangan superstall ini seringkali dengan mudah dapat dicapai dengan jalan memasang stabilo (horizontal stabilizer) pada sudut 45 derajat terhadap sumbu horizontal badan. Sebagai timer yang bertugas melepaskan ujung tali D/T pada waktunya, orang dapat menggunakan sumbu yang terbuat dari kertas singkong yang dicelup terlebih dahulu dalam larutan sendawa (NaNO3). Timer sebagai peralatan pembatas waktu yang lebih tepat, kini dapat dibeli di toko-toko penjualan sarana aeromodeling. Sayang, timer mekanik yang bentuknya menyerupai jam ini cukup mahal saat ini sulit diperoleh dan seandainya adapun harganya cukup mahal yakni sekitar Rp. 350.000,- sehingga mungkin kurang bijaksana apabila saya menganjurkan pemakaian timer ini secara meluas di kalangan penggemar pesawat layang model.

Seberapa perlu

Dengan semakin seringnya kita berlatih menerbangkan pesawat layang model terbang bebas, baik dari jenis Glider A1 maupun A2, kita akan menyadari bahwa prosentase keberhasilan memasukan model kita ke dalam thermal untuk mencapai waktu maksimum atau max adalah semakin besar. Beberapa atlit aeromodeling yang berpengalaman bahkan dapat menunjukan sedikitnya 7 dari 10 penerbangan modelnya mencapai waktu maksimum.

Dengan prestasi seperti itu, rasanya sudah dapat dipahami apabila perangkat yang namanya dethermaliser ini benar-benar merupakan peralatan penting dan sangat diandalkan untuk mencegah model kita hilang terbawa thermal. Bagi atlit-atlit aeromodeling terbang bebas sudah dapat dipastikan bahwa sedikitnya separuh dari jumlah penerbangan yang dilaksanakan akan berakhir dengan fungsinya dethermaliser.

 

D/T Elektronik

Kini dengan sedikit pengetahuan di bidang elektronika, kita akan dapat membuat sendiri timer D/T elektronik dengan biaya yang dapat dibilang cukup murah. Sebagai tulang punggung timer ini digunakan rangkaian elektronik yang dioperasikan sebagai penghasil pulsa waktu.

Berbeda dengan timer mekanik yang mengandalkan pergerakan mekanik yang relatif peka terhadap kotoran dan debu, timer elektronik mengandalkan penciptaan pulsa tegangan listrik yang berasal dari waktu pengisian muatan kapasitor. Karena bekerja secara elektronik, sistem ini tidak mudah terganggu oleh hadirnya debu ataupun kotoran yang biasanya selalu hadir dalam setiap arena perlombaan, sehingga istilah timer macet terkena debu kemungkinan tidak akan kita temui lagi setelah kita menggunakan timer elektronik.

 

IC Timer 555

IC 555 dalam sistem ini kita akan berfungsi sebagai penggetar ganda atau multivibrator yang periode pulsanya dapat diubah-ubah sesuai dengan besarnya tahanan pengisian kapasitor. Secara garis besar periode pulsa awal dalam detik dapat dihitung dengan rumusan.

To = 1.1 (P1 + R2) C1 (detik)

sedangkan periode berputarnya poros motor menggerakkan D/T dapat dihitung dengan formula

Tm = .7 R2 C1 (detik)

Periode pulsa awal To dihitung setelah switch di-on-kan dan tegangan pada kapasitor C1 mulai naik dari titik 0 volt.

Cara kerja timer elektronik

Subsistem elektronik akan bekerja sebagai berikut;

Setelah switch S di-on-kan, maka IC 555 timer bekerja mengisi kapasitor C1 melalui P1 dan R2. Setelah tegangan di C1 mencapai 2/3 Vcc maka tegangan di keluaran (kaki 3) akan jatuh ke 0 V. Keadaan ini akan menyebabkan transistor TR1 terhubung dan motor listrik M berputar sesaat. Waktu pengisian kapasitor C1 akan dapat divariasikan dari mulai beberapa detik hingga sekitar 2.5 menit dengan cara mengatur trimpot P1. Bila nantinya dikehendaki timer ini bekerja menggerakkan D/T setelah waktu tertentu yang tidak ingin kita ubah-ubah lagi, maka potensiometer P1 akan dapat diganti dengan resistor tetap sebesar 680 K.Ohm sampai dengan 820 K.Ohm.

Cara kerja sistim D/T

Subsistem mekanik yang akan menahan dan melepaskan tali D/T dapat berupa bentukan kawat baja yang menyerupai huruf "L".Komponen ini selanjutnya disebut kait putar yang dihubungkan dengan roda gigi cacing (whorm gear) di bagian tengahnya dengan roda gigi dari motor listrik 3V sehingga ujung-ujungnya tidak dapat bergerak (terkunci) dan hanya dapat bergerak jika motor listrik penggeraknya berputar.

Kait putar ini dapat diatur posisinya dengan menekan tombol sehingga mengarah ke depan dan dapat menahan tarikan tali dan karet D/T dari belakang.

Catu daya

Mengingat bahwa IC 555 sebagai "otak" sistim dethermaliser ini memerlukan catu daya bertegangan sekitar 4 volt, maka untuk menjamin keandalan sistim D/T elektronik, kita akan memberikan catu daya dari 3 buah baterai Nicad 700 mAh (berukuran AAl) yang disambungkan secara seri sehingga tegangannya menjadi 3.6 volt. Dengan digunakannya baterai nicad di dalam sistim D/T ini, kita tidak perlu repot-repot mengganti baterai setelah baterai yang berada di dalam pesawat tersebut habis, mengingat bahwa baterai nicad akan dapat dengan mudah kita isi kembali dengan baterai charger.

Apabila baterai nicad tidak mudah dijumpai di sekitar anda, ada juga alternatif lain sebagai catu daya D/T elektronik kita ini, yakni dengan menggunakan 3 buah baterai Alkaline tipe AAA yang dirangkai seri sehingga tegangannya menjadi 4.5 volt.

Selamat mencoba rekan-rekan aeromodeller....

 

Seperti umumnya pesawat sebenarnya, maka hukum dan prinsip kerja dalam suatu model pesawat berlaku juga. Sebagai contoh  gaya aksi dan reaksi yang timbul apabila suatu bergerak maju ( THRUST ), gaya angkat ( LIFT ) dan gaya tarik buminya ( WEIGHT ).

Stabiitas pesawat atau model adalah kemampuan untuk kembali ke posisi tertentu dalam suatu penerbangan ( setelah mendapat gangguan atau kondisi yang tidak normal ) . Pesawat atau model dapat menjadi stabil dalam keadaan tertentu dan tidak karena kondisi lainnya. Sebagai contoh suatu pesawat dapat stabil dalam keadaan terbang normal ( STRAIGHT and LEVEL  ) tetapi menjadi tidak stabil dalam keadaan posisi terbang terbalik ( INVERTED FLIGHT ), demikian sebaliknya.

Seringkali terjadi kerancuan antara stabilitas dengan keseimbangan ( BALANCE ) atau Trim. Pengujian keseimbangan dan trim dilakukan agar pesawat dapat mencapai kondisi yang stabil yang berhubungan erat dengan faktor keselamatan.

Untuk seorang aeromodeller , bagaimanapun dengan tingkat kehatian-hatian yang sangat tinggi dan baik dalam membuat suatu model, hasil akhir yang telah diselesaikan harus selalu diuji ulang tingkat presisi dan akurasinya, dan berarti pengujian Keseimbangan dan Alignment  dilaksanakan sebelum model diterbangkan . Hal ini harus diterapkan untuk semua jenis, khususnya model terbang bebas ( Free Flight Model - F1 Classes ).

Keseimbangan adalah hal yang paling penting, dan harus yang diperiksa pertama kali. Untuk model yang telah dipublikasikan atau model yang telah dijual dalam bentuk kit, biasanya titik keseimbangan ini diberi tanda dengan CG ( Centre of Gravity ).

Cara yang paling mudah dan umum dilakukan untuk menguji keseimbangan adalah dengan memberi tanda pada bagian bawah kedua ujung  sayap yang segaris dengan titik berat juga pada  bagian depan dan belakang dari badan pesawat, kemudian angkat pesawat pada titik-titik tersebut dengan ujung jari. Apabila keseimbangan model berada pada posisi Horizontal, berarti titik keseimbangannya benar. Apa bila tidak, maka harusditambahkan  beban atau yang populer dengan Ballast di bagian depan ( Nose ) atau ekor ( Tail ) suatu model .

Hal ini memiliki akurasi yang baik untuk berbagai tujuan, khususnya untuk model yang memiliki karatersitik perbedaan yang kecil dalam keseimbangan dan tidak merupakan hal yang kritis serta memiliki kondisi stabilitas yang dapat diatur ( Trim ). Untuk model yang memiliki ukuran yang lebih besar dan kebutuhan keseimbangan yang tinggi, hal tersebut tidak dapat diterapkan.

 

Perlu diingat juga bahwa pengujian keseimbangan harus dilakukan untuk model dalam keadaan  lengkap (  semua bagian terpasang ) dan siap terbang, walaupun bahan bakar tidak termasuk yang dihitung dalam   model yang menggunakan mesin. Paling tidak keadaan ini memenuhi persyaratan dan memberikan gambaran seutuhnya mengenai keseimbangan.

Umumnya model yang telah dibuat, posisi sayap ( WING ) dan horizontal stabilizer ( STABILO/ELEVATOR ) harus dicek. Saat ini kebanyakan modeller menggunakan pandangan ( SIGHTING by EYE )  untuk menentukan apakah posisi sayap dan stabilo membentuk sudut siku dengan badan pesawat ( FUSELAGE ), dianjurkan untuk menggunakan peralatan sebenarnya yang presisi dalam menentukan posisi tersebut.

Sebagai  contoh dapat digunakan jarum pentul dan benang. Jarum tersebut diletakkan di bagian depan ( NOSE ) dan belakang ( TAIL ). Kemudian ditarik benang dari pin bagian depan ke ujung ( TIP ) kanan dan kiri stabilo. Untuk sayap, ditarik benang dari pin belakang ke ujung sayap ( WING TIP ) kiri dan kanan.

Melihat dari pesawat bagian belakang juga salah satu cara yang cukup efektif untuk menguji keseluruhan proses . Untuk memperbaiki kesalahan dalam apabila posisi sayap, badan dan bagian ekor tidak benar, maka yang pertama kali yang dilakukan cari yang salah. Pada kenyataannya apa bila terjadi kesalahan kecil pada sayap terhadap badan maka hal yang termudah adalah menyesuaikan posisi stabilo.

Pengujian terbang dan trim dilakukan agar suatu model dapat terbang mulus dan aman. Penyesuaian yang baik dari seluruh komponen pesawat di gunakan untuk mencapai hasil yang terbaik dari kinerja pesawat model, khususnya model yang dirancang untuk berprestasi tinggi. Hal ini membutuhkan perhatian khusus, pengalaman yang baik dan know-how tentang model yang dibuat.

 

Salam Aeromodeller,

Untuk pertama kalinya di Indonesia, Kejuaraan Nasional Aeromodelling  diselenggarakan di Indonesia Bagian Timur, tepatnya di Kota Makassar Sulawesi Selatan. Hal yang menarik disini yaitu pertandingan jenis lomba model yang dikendalikan dengan tali ( Control Line ) diselenggarakan malam hari.

Control Line ini menggunakan mesin berkisar 2.5 cc hingga 10 cc dan memiliki kecepatan 60 - 180 km/jam. Jadi dapat dibayangkan apabila tali terputus dari penerbangnya dengan kondisi mesin yang masih hidup.

Untuk mengatasi keadaan ini, para aeromodeller di Amerika telah menerapkan sistem pemutus aliran bahan bakar dari tanki atau sistem bertekanan. Dengan mekanisme tertentu apabila tali kendali berkurang tegangannya maka sistem pemutus akan bekerja sehingga mesin akan mati. Disamping itu , mesin diikat dengan kawat ke pusat kendali di sayap.

Dengan mempertimbangkan faktor keselamatan bagi penerbang, penonton dan peralatan sekitar PORDIRGA akan secara bertahap menerapkan penggunaan alat tersebut. Diharapkan dengan demikian kegiatan aeromodelling dapat dilaksanakan di tengah masyarakat.

Bell Crank SliderMeijlik Shut OffShut OffSqueezer Shutoff

{moscomment}

 

Pembagian Pesawat Udara

Pesawat udara adalah sebuah alat yang dibuat yang menggunakan media udara. Terdiri dari :

a. Pesawat Udara Aerodinamis , yaitu pesawat udara yang lebih berat dari udara ( HEAVIER THAN AIR )
b. Pesawat Udara Aerostatis , yaitu pesawat udara yang lebih ringan dari udara ( LIGHTER THAN AIR )

Pesawat Udara Aerodinamis terdiri dari 2 kelompok yaitu pesawat bermotor dan tidak bermotor. Yang bermotor terdiri dari bersayap tetap ( FIXED WING ) dan sayap putar ( ROTARY WING ) .Pesawat udara aerodinamis bermotor bersayap tetap terdiri dari pesawat terbang , kapal terbang dan amphibians. Yang bersayap putar terdiri dari Helicopter dan Gyrocopter. Pesawat udara aerodinamis tidak bermotor terdiri dari pesawat luncur ( GLIDER ) , pesawat layang ( SAILPLANE ) dan layang-layang. Pesawat udara aerostatis terdiri dari kapal udara dan balon udara.

Pembagian Pesawat Model

Pada dasarnya pembagian jenis pesawat model sama dengan pesawat sebenarnya. Secara umum dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Pesawat Model Bermotor yang terdiri dari bersayap tetap ( FIXED WING ) dan sayap putar ( ROTARY WING ), kedua-duanya ada yang berfungsi sebagai sport ( FUN FLYING ) , Trainer dan Kompetisi / Prestasi.
2. Pesawat Model yang tidak bermotor terdiri dari jenis sport ( FUN ) dan Kompetisi/Prestasi.

Ada juga pesawat model yang dibuat menyerupai pesawat sebenarnya baik dalam kategori FUN dan Kompetisi yang disebut model Skala ( SCALE MODEL ) .
Untuk pesawat model kompetisi/prestasi klasifikasinya memiliki standard FAI ( Federation Aeronatique Internationale ) yang berkedudukan di Paris, Perancis.


Klasifikasi Pesawat Model Menurut FAI
 

1. Kelas F1 (Free Flight) :
• F1A (Glider A2)
• F1B (Rubber Power)
• F1C
• F1D
• F1E
• F1F
• F1G
• F1H (Glider A1)
• Chuck Glider/OHLG (On Hand Launched Glider)

2. Kelas F2 (Control Line) :
• F2A (CL Team Race)
• F2B (CL Aerobatic)
• F2C (CL Speed)
• F2D (CL Combat)

3. Kelas F3 (Radio Control) :
• F-3 A ( RC Aerobatic )
• F-3 B ( RC Soaring Glider )
• F-3 C ( RC Helicopter )
• F-3 D ( Pylon Racing )
• F-3 E ( RC Electric Power )
• F-3 F ( RC Slope Soaring )
• F-3 G ( RC Power Glider )

4. Kelas F4 (Scale Model) :
 F-4 A ( Free Flight Scale )
• F-4 B ( CL Flying Scale )
• F-4 C ( RC Flying Scale )

5. Kelas F5 (Electric Model) :
• F-5 A ( Electric RC Aerobatic)
• F-5 B ( Electric RC Glider )
• F-5 C ( Electric RC Heli )
• F-5 D ( Electric RC Pylon )


1. Kelas F1 (Free Flight) :

Salah satu model yang menggambarkan seluruh prinsip aerodinamika bekerja adalah model terbang bebas.
Kenapa model ini ? salah satu alasannya yaitu penerbang tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pesawat atau model setelah terlepas dari penerbangnya. Gaya angkat pesawat tersebut hanya dihasilkan oleh sayap yang tidak dapat digerak-gerakkan
Selanjutnya kemampuan model untuk tetap terbang akan sangat tergantung dengan struktur dan rancangan yang diterapkan .Dengan rancangan tersebut apakah mampu terbang lama di udara bebas karena tidak ada sumber tenaga penggerak apapun baik yang dihasilkan oleh mesin maupun motor listrik. Oleh karena itu model harus memiliki tingkat akurasi dan presisi secara aerodinamika yang sangat tinggi agar dapat terbang lama di udara. Tentunya didukung pula oleh keahlian penerbangnya dalam memahami keadaan cuaca dan mengatur stabilitas modelnya.
Model ini dapat dimainkan didalam ( INDOOR ) atau luar ruangan ( OUTDOOR ). Salah satu cara menerbangkan yaitu dengan melempar ke udara yang populer dengan nama CHUCK Glider atau OHLG ( Outdoor Hand Launched Glider ). Model yang baik akan dapat terbang lebih dari 120 detik ( 2 menit ). Bentuk model ini bebas tetapi harus memiliki luas sayap antara 187,5 cm2 sampai 800 cm2. Para pemula sangat dianjurkan untuk membuat model ini karena akan melatih cara memotong dan menghaluskan bahan serta pemahaman teori dasar aerodinamika. Setelah berlatih dengan model OHLG, biasanya para pembuat model yang menggemari terbang bebas akan mencoba pesawat glider. Model ini memiliki panjang sayap lebih dari 150 cm. Luas sayap dari model ini berkisar antara 32-34 dm2 dengan berat minimum 410 gram .
Model ini diterbangkan diluar ruangan dan biasanya ditempat yang luas , umumnya pangkalan udara menjadi pilihan para modeller. Untuk membawa model ini keudara, penerbang akan menarik dengan tali yang panjangnya tidak boleh lebih dari 33 meter dan harus dilengkapi bendera berwarna. Seorang pembantu penerbang akan memegang model dan menghidupkan timer yang berguna untuk membatasi waktu penerbangan. Model yang baik akan dapat mengudara selama 180 detik ( 3 menit ) bahkan lebih. Apabila melewati waktu itu, timer harus bekerja yang akan menyebabkan bagian horizontal stabilizer ( STABILO ) pada posisi ekor bergerak keatas ( VERTICAL ) dan sehingga memaksa pesawat turun vertical seperti parasut .
Untuk mencapai waktu-waktu maksimal tersebut diatas tidak mungkin hanya dengan cara melempar ataupun menarik model dengan tali sepanjang yang ditentukan. Harus ada bantuan arus udara naik yang biasa disebut THERMAL. Karena itu penerbang akan berusaha melepaskan modelnya di dalam Thermal. Oleh karena itu penerbang harus berlari di sekitar lapangan untuk mecari kolom udara yan naik.
Thermal adalah pergerakan udara naik ( vertical ) karena perbedaan suhu udara karena radiasi panas bumi akibat penyinaran matahari. Panas bumi akan berbeda sesuai dengan keadaan permukaan, sebagai contoh antara udara persawahan dan bangunan. Udara diatas bangunan yang lebih cepat panas sehingga lebih cepat bergerak naik



 • F1A (Glider A2)

Definisi model

Pesawat model yang tidak dilengkapi oleh tenaga penggerak ( motor listrik atau piston ) untuk mendapatkan gaya dorong kedepan dan gaya angkat ( LIFT ) yang dihasilkan hanya didapat dari permukaan aerodinamis yang bersifat tetap ( tidak dapat digerakkan )

Karateristik Model

Model ini memiliki luas permukaan ( St ) 32 - 34 dm 2 dan beratnya tidak boleh kurang dari 410 gram. Muatan maksimum 50 gram/dm2. Panjang tali penarik maksimum dengan beban 5 kg adalah 33 meter atau 50 meter. Ketentuan panjang ditetapkan dengan melihat situasi lapangan dan cuaca 1 hari sebelum perlombaan serta berlaku hingga akhir kegiatan nomor ini.

Penerbangan

Setiap penerbang mempunyai hak atas 7 kesempatan penerbangan resmi ( usaha pertama lebih besar dari 20 detik dan usaha kedua apapun hasilnya ). Penerbang diijinkan membawa 1 orang pembantu untuk melepaskan modelnya. Tali penarik harus terlepas dari model yang mengudara dan tidak ada bagian model yang terlepas. Tali penarik antara peserta tidak boleh saling beradu. Penerbang tidak boleh berlari terlalu jauh sehingga tali penarik tidak terlihat pada saat lepas dari model. Panitia akan menunjuk 2 pencatat waktu yang berjarak 10 meter dalam radius penerbangan.
 

Penilaian Pertandingan

Setiap peserta memiliki 7 kesempatan penerbangan dengan masing-masing waktu maksimum 180 detik. Jika ada jumlah yang sama maka akan dilakukan penerbangan tambahan pada ronde tersebut.


• Chuck Glider/OHLG (On Hand Launched Glider)

Definisi Umum

Model OHLG atau yang lebih sering disebut dengan Chuck Glider adalah model yang dirancang untuk terbang bebas dengan daya yang ada pada model itu dilempar dengan tangan manusia agar mencapai ketinggian tertentu untuk memulai penerbangannya.

Ketentuan Model

Bentuk bebas dengan luas sayap minimum 187,5 cm2 dan maksimum 800 cm2.

Penerbangan

Penerbangan dilakukan dari dengan melemparkannya kaki harus berpijak. Setiap peserta berhak atas 7 penerbangan resmi dengan 4 nilai terbaik . Setiap penerbangan hanya dicatat sampai 120 detik ( 2 menit ) selebihnya tidak. Bila ada bagian pesawat yang terlepas maka penerbangan batal. Bila penerbangan dibawah 10 detik diberi kesempatan lagi dalam ronde tersebut.
Pencatatan waktu dilakukan oleh 2 orang yang ditunjuk Panita Penyelenggara. Hasil adalah jumlah rata-rata yang dicatat oleh 2 orang pencatat waktu. Waktu penerbangan dicatat sejak pesawat lepas dari tangan dan mendarat kembali ke tanah, terhenti penerbangan karena ada halangan, 10 detik hilang dari pandangan pencatat.
Pemenang
Pemenang adalah peserta yang mempunyai jumlah waktu penerbangan terbanyak dari 4 waktu terbaik. Bila belum memastikan, maka diadakan penerbangan tambahan


 

2. Kelas F2 (Control Line)

Yang dimaksud dengan model Control Line adalah pesawat model yang dihubungkan dengan sepasang kawat baja dengan sebuah handle atau pegangan berbentuk huruf U yang digenggam oleh tangan penerbang. Sedemikian rupa sehingga masing-masing kawat berfungsi sebagai kawat naik dan kawat turun.
Untuk model yang berukuran kecil dan ringan dapat digunakan tali pancing ikan , sedangkan model yang lebih besar umumnya menggunakan kawat baja dengan diameter dan panjang yang sesuai dengan kapasitas mesin dan panjang sayap. Umumnya panjang sayap berkisar antara 90cm hingga 150cm. Kapasitas mesin yang digunakan antara 2.5cc sampai 10 cc.
Model yang diterbangkan akan memiliki jarak yang tetap sesuai dengan panjang tali. Adapun lintasan pesawat akan berbentuk lingkaran dimana penerbang menjadi porosnya.
Pergerakan dari handle pengendali pada pilot akan diteruskan melalui kawat penghubung ( LEAD OUT ) dalam sayap dengan bellcrank di pesawat yang akan diteruskan oleh batang pendorong ( PUSH ROD ) ke flap dan elevator.
Pada saat kawat naik ditarik oleh handle penerbang kebelakang maka elevator akan bergerak keatas dan demikian sebaliknya. Dengan cara demikian pesawat dapat bergerak menanjak ( CLIMB ) dan menukik ( DIVE ) , termasuk melakukan gerakan membuat lingkaran ( LOOP ) atau terbang terbalik ( INVERTED )
Control Line model ini terdiri dari beberapa jenis dan ukuran. Untuk pemula tersedia model sederhana yang miliki karateristik stabilitas yang tinggi , kuat dan mudah dalam pembuatannya.
Apabila penerbang pemula sudah mahir, dapat dilanjutkan dengan membuat dan menerbangkan F-2B ( Control Line Aerobatic ) model.
Umumnya model ini memiliki kemampuan melakukan gerakan akrobat atau manuver-manuver yang tinggi. Biasanya model ini dilengkapi flap yang terdapat di bagian belakang sayap. Apabila flap digerakkan ke bawah maka elevator akan naik dan sebaliknya.
Kegunaan dari flap ini adalah untuk menambah gaya angkat pada pesawat pada kecepatan rendah. Bentuk penampang sayap untuk model yang dikendalikan dengan tali biasanya memiliki penampang sayap yang simetris yaitu tebal bagian atas dan bawah sama . Model ini memiliki kapasitas mesin antara 4cc hingga 9 cc dengan panjang tali maksimum 21.5 meter. Umumnya para modeller menyukai model yang tahan terhadap cuaca ( angin yang keras ) dalam hal ini untuk melakukan gerakan aerobatic seperti lingkaran ( LOOP ) atau angka 8 mendatar ( HORIZONTAL EIGHT ) dsb . Sesusai standar internasional ada 16 aerobatic dalam penerbangan resmi dalam kejuaraan.
Model Combat ( F-2D ) adalah nomor lomba yang paling menarik, karena memiliki kecepatan yang tinggi, kemampuan aerobatic yang baik, bentuk yang sederhana. Penerbangan Combat adalah 2 penerbang yang menerbangkan modelnya bersamaan satu arena lingkaran. Masing-masing model menarik seutas pita kertas krepe .Masing-masing model akan berusaha memotong pita krepe lawannya dan agar pita sendiri tidak terpotong . Setiap pemotongan krepe akan mendapat nilai, dan nilai akan dikurangi apabila melakukan pelanggaran . Kapasitas mesin yang digunakan tidak boleh melebihi 2.5 cc. Dan panjang tali kedua penerbang harus sama dan maksimum 16 meter.


 F2B (CL Aerobatic)

Definisi Umum
Pesawat model dimana tenaga untuk menerbangkannya diperoleh dari motor piston ( boleh lebih dari 1 ) dan gaya angkat diperoleh dari permukaan -permukaan pendukung model yang tidak dapat digerakkan ( kecuali bidang kemudi seperti Elevator ) sewaktu penerbangan. Obyek yang dinilai adalah manuver-manuver yang telah ditentukan.

Ketentuan Model

Berat maksimum 5 kg
Luas permukaan maksimum (St) 150 dm2
Muatan maksimum 100 gr/dm2
Kapasitas maksimum motor 10cc
Motor harus dilengkapi peredam suara yang efektif Model harus take-off dari tanah

Tali Pengendali

Panjang harus lebih dari 15 m tetapi maksimum 21.5 m Tali diukur dari handle penerbang sampai poros baling-baling. Pengujian dilakukan pada seluruh sistem kemudi, tali dan handle dalam keadaan siap terbang sebesar 15 kali berat model

Penerbangan

Model sudah harus mengudara ( penerbangan resmi ) dalam waktu 3 menit
Setiap penerbang memiliki 2 usaha atas penerbangan resmi ( model mengudara )
Apabila ada bagian yang terlepas dari model maka penerbangan dianggap batal
Penerbang boleh membawa pembantu 2 orang
Waktu penerbangan resmi adalah 7 menit
Peserta harus menyelesaikan 16 manuver yang dilakukan secara berurutan
Panitia akan menunjuk 5 orang Juri yang disertai pencatat hasil
Setiap peserta berhak 2 kali penerbangan resmi dalam Babak Kwalifikasi dan akan diambil nilai tertinggi
Limapeserta dengan nilai tertinggi berhak memasuki babak Final



• F2D (CL Combat)

Definisi Pertandingan

Pertandingan Combat adalah pertandingan dimana 2 buah model terbang bersamaan pada satu arena dalam periode waktu yang telah ditentukan dengan tujuan saling memotong pita kertas krepe ( STREAMER ) yang dipasang pada bagian belakang model. Setiap pemotongan streamer akan diberikan nilai

Definisi Model

Model Combat adalah suatu model dimana tenaga penggeraknya diperoleh dari motor serta gaya angkatnya dihasilkan dari gaya aerodinamik yang bekerja pada permukaan-permukaan yang tidak dapat digerakkan kecuali bidang kemudi

Arena Pertandingan

Lapangan arena Combat terdiri dari 2 ( dua ) lingkaran dengan satu pusat yang terlihat jelas diatas tanah. Lingkaran Tengah ( Penerbang ) berjari-jari 3 ( tiga ) meter, Lingkaran penerbangan model 19 ( sembilan belas ) meter dan Lingkaran Pit ( mekanik ) 22 meter.

Peserta Pertandingan

Pilot boleh membawa 2 ( dua ) mekanik, dalam keadaan basah mekanik tambahan diijinkan untuk memegang kertas krepe . Selama pertandingan Pilot dan mekaniknya harus menggunakan helm pengaman yang dengan pengikat dagu. Pilot boleh membawa 2 model cadangan beserta talinya yang harus ditempatkan diluar lingkaran tengah. Sisa streamer yang tersisa pada model yang jatuh harus dipindahkan ke pesawat cadangan yang siap terbang.

Karateristik Model

Luas permukaan maksimum 150 dm2. Berat model maksimum 5 kg. Muatan maksimum 100 gr/dm2. Tidak boleh ada peralatan tambahan untuk memotong streamer. Kapasitas motor maksimum 2.5 cc, apabila dengan ball bearing harus memiliki peredam suara serta motor harus memiliki pengikat pada sumbu titik beratnya. Model harus memiliki meralatan untuk menempatkan streamer dan terletak pada garis poros mesin.

Ketentuan Alat Pengendali

Panjang tali kedua penerbang harus sama yaitu 15.92 m, diukur dari handel penerbang sampai sumbu baling-baling motor. Setiap handle harus dilengkapi tali pengaman ( SAFETY STRAP ) . Setiap memulai pertandingan , kekuatan tali dan sistem kemudi akan diuji.

Penilaian Pertandingan

Waktu keseluruhan pertandingan adalah 5 menit. 1 menit pertama model sudah harus hidup dan apabila gagal maka dinyatakan kalah. Setelah model hidup, model harus diterbangkan setelah tanda diberikan oleh pimpinan pertandingan ( Tanda Kedua ) . Apabila ke 2 model sudah mengudara, maka pimpinan pertandingan akan memberikan tanda bahwa ke pertempuran dapat dimulai. Umumnya juri yang terlibat terdiri dari juri waktu, streamer, mekanik, juri lingkaran penerbang .
Setiap pemotongan streamer akan mendapat nilai, termasuk waktu terbangnya. Nilai pemotongan tersebut adalah 100, untuk waktu penerbangan nilai 1 akan diberikan untuk setiap detik. Apabila model memotong benang, bukan kertasnya maka tidak mendapat nilai. Model yang terbang tanpa streamer karena terlepas akan didenda 100 dan harus segera mendarat. Hasil akhir adalah jumlah komponen nilai yang ada yang dikurangi oleh pelanggaran yang dilakukan oleh penerbang dan mekaniknya selama penerbangan resmi berlangsung.
Sistim pertandingan yang disusun biasanya hasil kesepakatan pada pertemuan teknis sebelum pertandingan dimulai. Penerbang dapat dinyatakan gagal ( DISKWALIFIKASI ) apabila mesin modelnya tidak hidup dalam waktu 2 menit, menyerang model lawan bukan pita kertas krepe lawannya ataupun menyerang penerbang.


3.Kelas F3 (Radio Control)

Salah satu model yang memiliki teknologi dan keterampilan tertinggi adalah pesawat yang dikendalikan dengan gelombang radio ( RADIO CONTROL ) .  Contoh yang paling umum dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat  yaitu adalah Remote Control elektronik untuk TV atau laser video. Dengan bantuan alat tersebut kita dapat mengubah program tanpa kita harus beranjak dari tempat semula.
Prinsip tersebut sama halnya dengan model yang dikendalikan dengan radio. Pada jenis ini penerbang dan pesawatnya secara fisik tidak berhubungan langsung tapi dengan perantara gelombang radio untuk merubah arah, gerakan dan kecepatan modelnya.  Selama penerbangan pilot  berada didarat.
Penerbang itu sendiri mengatur modelnya melalui  pemancar ( TRANSMITTER ) yang memiliki beberapa saluran ( CHANNEL ).
Adapun saluran-saluran tersebut memiliki kegunaan masing-masing, antara lain untuk mengendalikan naik-turun pesawat, menentukan putaran mesin, membelokkan pesawat dan masih ada beberapa fungsi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dari kemampuan pesawat model itu.
Gelombang yang dikirim oleh penerbang di darat melalui saluran-saluran tadi diterima oleh peralatan penerima ( RECEIVER ) pada pesawat model , kemudian diteruskan ke bagian-bagian pengendali pesawat melalui SERVO. Peralatan ini terhubung langsung dengan receiver melalui  kabel.
Setiap servo tersebut dihubungkan kebagian-bagian pengendali  pesawat melalui batang pendorong ( PUSH ROD ) . Batang pendorong ini akan menyalurkan gerakan servo untuk mengatur bidang pengendali dan kemudi pesawat seperti kemudi guling ( AILERONS )   pada saya
Model dalam kategori ini ada 2 yaitu yang bersayap tetap ( FIXED WING ) jenisnya seperti pesawat pad umumnya dan bersayap putar ( ROTARY WING ) atau yang lebih populer dengan nama HELICOPTER
Umumnya untuk pemula dapat menggunakan model latih ( RC TRAINER ), dimana pesawat ini memiliki tingkat stabilitas yang tinggi serta  gaya angkat yang tinggi disamping itu sederhana dalam penggunaanya.
Untuk model ini, biasanya pemula diajarkan bagaimana cara naik-turun, berbelok dan mengatur putaran mesin.   Saat ini ada 2 jenis mesin yang umum digunakan yaitu mesin 2 langkah dan 4 langkah. Mesin 4 langkah memiliki karateristik putaran yang lebih rendah namun tenaga yang dihasilkan lebih besar. Biasanya dipakai untuk aerobatic model .
Jumlah saluran ( CHANNEL ) model ini tidak terlalu banyak, sehingga penerbang dapat dengan mudah mengerti fungsi-fungsi dasar dari radio control serta kemampuan pesawat.
Untuk tingkat yang lebih mahir digunakan pesawat model Radio Control AEROBARTIC ,untuk mengimbangi gerakan pesawat lebih bervariasi , digunakan jumlah saluran yang lebih banyak yang dihubungkan dengan bidang kendali tambahan yang tidak dibutuhkan pada model pemula.
Jenis lain yang menggunakan radio sebagai alat pengendalinya adalah model pesawat layang ( SOARING GLIDER ). Dalam hal  ini , model ditarik dengan tali sepanjang 30 meter seperti menerbangkan layang-layang, kemudian dilepas. Pesawat tersebut akan terbang bebas untuk dikendalikan penerbangnya.


• F-3 A ( RC Aerobatic )

Definisi model

Pesawat model yang dikendalikan secara aerodinamis melalui bidang-bidang kemudi untuk merubah arah, kecepatan dan gerakannya melalui gelombang radio oleh penerbangnya diatas tanah.

Karateristik Model

Model ini memiliki panjang sayap maksimum 2 meter, panjang badan 2 meter dengan berat total 5 kg tanpa bahan bakar. Kapasitas mesin tidak dibatasi, tetapi penggunaan motor listrik dibatasi 42 volt. Seluruh jenis kendali elektonik yang bekerja secara otomatis dilarang.

Penerbangan

Penerbang diijinkan membawa 1 orang mekanik yang dapat juga dirangkap oleh Manajernya. Dua orang pembantu dapat dihadirkan untuk menghidupkan mesin dan meletakkan pesawat dalam posisi lepas landas ataupun tinggal landas. Penerbang berhak 1 usaha penerbangan resmi dimana hasilnya akan dicatat apapun hasilnya. Penerbang harus menyelesaikan manuver sebanyak 23 gerakan secara berurutan. Panitia akan menunjuk tim juri yang terdiri dari 5 orang. Apabila ada bagian model yang terlepas, penerbangan harus dihentikan dan pesawat didaratkan. Model harus menggunakan roda pendaratnya untuk tinggal dan lepas landas, tidak diijinkan untuk dilempar ( HAND LAUNCHED ). Penerbang diberi waktu selama 10 menit untuk menyelesaikan gerakan.
Penilaian Pertandingan
Setiap peserta akan diberi kesempatan melaksanakan 3 penerbangan dalam penyisihan dan 2 nilai terbaik akan digunakan menentukan peringkat peserta . Lima peserta dengan nilai terbaik akan masuk ke babak final . Dalam final  pertandingan , penerbang memiliki 2 kesempatan untuk menentukan juara.

• F-3 C ( RC Helicopter )

Definisi model

Pesawat model yang lebih berat dari udara yang mendapatkan gaya angkat dari baling-baling yang berputar   pada sumbu vertikal dan secara aerodinamis melalui bidang-bidang kemudi untuk merubah arah, kecepatan dan gerakannya melalui gelombang radio oleh penerbangnya diatas tanah.

Karateristik Model

Model ini memiliki luas daerah putaran rotor utama tidak boleh melebihi 300 dm2. Untuk helikopter yang memiliki lebih dari 1 rotor pada poros vertikal yang berbeda luasnya keseluruhannya tidak boleh melebihi 300 dm2 . Berat model maksimum 6 kg . Kapasitas mesin maksimum untuk motor 2 langkah adalah 10 cc, sedang motor 4 langkah 20 cc . Penggunaan motor listrik dibatasi 42 volt. Seluruh jenis kendali elektonik yang bekerja secara otomatis dilarang. Baling-baling utama ( MAIN ROTOR ) atau bagian belakang ( TAIL ROTOR ) tidak boleh terbuat dari logam.

Penerbangan

Penerbang diijinkan membawa 1 orang mekanik yang harus mengumumkan saat mulai, selesai dan nama dari setiap manuver yang dilakukan. Manuver yang dilakukan harus berurutan sebanyak 9 gerakan  . Total waktu penerbangan adalah 9 menit.  Mekanik dapat juga menjelaskan arah angin, daerah larangan terbang. Posisi mekanik dapat juga dirangkap oleh Manajernya. Penenrbang diijinkan membawa 2 model dimana hanya diperbolehkan ditukar di dalam kotak start. Apabila ada bagian model yang terlepas, penerbangan harus dihentikan dan pesawat didaratkan.   Panitia akan menunjuk tim juri yang terdiri dari 5 orang.

Penilaian Pertandingan

Setiap peserta akan diberi kesempatan melaksanakan 3 penerbangan dalam penyisihan dan 2 nilai terbaik akan digunakan menentukan peringkat peserta . Lima peserta dengan nilai terbaik akan masuk ke babak final . Dalam final  pertandingan , penerbang memiliki 2 kesempatan untuk menentukan juara.


4.Kelas F4 (Scale Model)

Bertahun-tahun para modeller selalu mengembangkan hobbynya dalam aeromodelling , salah satunya adalah membuat  model yang merupakan replika dari pesawat sebenarnya. Pesawat tersebut ada yang dapat diterbangkan maupun yang tidak, hanya sebagai miniatur . Pada awalnya , model yang terbuat dari kayu menjadi pilihan tetapi setelah itu bahan plastk menjadi pilihan.
Hal yang paling mudah dijumpai untuk model ini apa bila kita berkunjung ke biro perjalanan dan wisata. Biasanya mereka memiliki model pesawat komersil yang memberi layanan angkutan udara. Salah satu contoh adalah jenis Airbus A-300 atau Boeing 737
Keindahan dari jenis model ini adalah aeromodeller dapat membuat duplikat atau tiruan dari jenis pesawat yang ada. Ukurannya tergantung dari jenis pesawat yang akan dibuat oleh modeller. Yang menjadi pertimbangan antara lain adalah upah buruh, biaya bahan baku , gudang penyimpanaan.
Banyak produksi ini dikerjakan sebagai home industri dengan bahan baku dari kayu. Balsa menjadi pilihan yang banyak digunakan karena mudah dibentuk, dipotong ataupun dipahat.
Biasanya bahan dasar balsa tersebut berbentuk balok. Kemudian pada sisinya digambar badan pesawat tampak samping menjadi suatu profil. Selanjutnya digunakan mesin potong listrik yang mengikuti bentuk pesawat, setelah itu bagian atas dikerjakan seperti sebelumnya. Bagian pesawat yang lain seperti ekor, sayap dan sirip tegak juga mengikuti  cara kerja yang sama.
Pertumbuhan industri plastik yang besar memungkinkan pembuatan model ini secara massal.
Model yang dihasilkan juga sangat beranekaragam, mulai jenis pesawat perang dunia ke I hingga model saat ini. Di Indonesia, beberapa tahun yang lalu mungkin masih ada ingatan kita yaitu produk mainan TAMIYA. Beberapa jenis pesawat tempur seperti F-15, F-16 dan pembom B-29  dapat diperoleh dipasaran .
Model skala yang dapat diterbangkan juga  tantangan yang menarik bagi para aeromodeller. Pesawat tersebut dapat dikendalikan dengan radio ataupun terbang bebas.  Beberapa model klasik menjadi pilihan,  seperti P-51 Mustang dan  F-16. Pesawat tersebut memiliki tingkat akurasi dalam penyelesaiannya dan bentuknya.


5.Kelas F5 (RC Electric)

Salah satu model yang sedang digemari saat ini adalah model bertenaga listrik ( electric power ). Tenaga listrik tersebut diperoleh dari dinamo. Untuk sumber listriknya di dapat dari baterai kering ( DRY CELL ) yang dapat diisi kembali ( RECHARGEABLE ).
Dinamo tersebut dihubungkan dengan suatu poros dimana pada ujungnya terdapat baling-baling ( PROPELLER ) untuk meghasilkan gaya maju. Model ini dikendalikan oleh penerbangnya melalui radio ( RADIO CONTROL )
Akhir-akhir ini model bertenaga listrik ini semakin populer, salah satu alasannya yaitu para modeller tidak perlu bersusah payah membersihkan  pesawatnya karena tidak ada bahan bakar ( FUEL ) yang tersisa di bagian model. Disamping itu tenaga yang di hasilkan cukup besar karena akselerasi yang disalurkan tidak banyak yang hilang karena pengaruh mekanis motor. Apabila dengan model bermesin, performance yang dihasilkan sangat tergantung dari kwalitas campuran bahan bakar dan udara yang masuk kedalam motor penggerak.
Saat ini, motor bertenaga listrik dapat dijumpai pada model helicopter dengan kapasitas listrik dibatasi maksimum 42 Volt . Pada  pesawat terbang bebas ( FREE FLIGHT ) seperti pada model Glider, tenaga yang digunakan biasanya untuk mencapai ketinggian tertentu, setelah itu motor dimatikan dan model akan dikendalikan mencari udara panas  yang naik ( THERMAL ) .
Karateristik umum dari model ini adalah memiliki bobot yang ringan dan sederhana konstruksinya. Model biasanya terbuat dari busa plastik ( STYROFOAM ), bahan ini mudah dijumpai apabila kita membeli peralatan elektronik seperti TV, yang digunakan untuk pelindung guncangan.

{moscomment}

 

Aeromodelling Indonesia - PB FASI
Copyright © 2005-2017. All Rights Reserved
.