Aeromodelling Indonesia - PB FASI

Translation

English Filipino French German Korean Russian Spanish Thai Ukrainian Vietnamese

Clubs Activity

Visitors

Today10
Yesterday450
This week2249
This month8492
Since 200510101703

  • IP: 35.175.191.150
  • Browser: Unknown
  • Browser Version:
  • Operating System: Unknown

1
Online

Saturday, 21 September 2019 00:26

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

       Glider A2 adalah jenis pesawat layang model yang  menerbangkannya dengan ditarik dengan tali yang panjangnya tertentu ( 15-25 meter ) . Didalam FAI sporting code, perlombaan glider A2 diberi kode internasional F1A yang dimasukan ke dalam katagori terbang bebas yang tidak dikendalikan.

 

       Walaupun istilahnya tidak dapat dikendalikan secara aktif dari bawah, pesawat model ini masih boleh diperlengkapi  dengan berbagai perangkat pengendalian otomatis ataupun yang diaktifkan dengan gelombang radio secara “non repeatable “ (tidak bisa diulang ).

 

      Sejak awal perkembang-annya hingga saat ini beribu desain glider A2 sudah dibuat dan diterbangkan  diarena aeromodeling. Desain model lama seperti yang digunakan oleh para pramuka udara di tahun 60-an mempunyai sayap yang relatif pendek dengan struktur kerangka yang tidak terintegerasi. Di era komposit sekarang ini  model glider A2 desain mutakhir di-buat dari struktur karbon , komposit , titanium yang terkenal ringan namun kuat.

 

Model Prestasi Tinggi    

 

      Untuk berlatih prestasi mencapai target,hal pertama yang terpenting untuk kita perhatikan adalah model yang akan kita pergunakan yakni glide A2, terutama dari desain aerodinamis dankonstruksinya. Hal ini penting mengingat bahwa yang dimaksudkan latihan prestasikali ini adalah latihan untuk memaksimalkan penerbangan pesawat model kita yang secara natural prestasinya sudah dibatasi oleh desain aerodinamikanya.   

 

      Sehingga apabila kita menggunakan yang dirancang bukan untuk prestasi tinggi (high performance ) maka hasil latihan prestasi kita juga tidak akan dapat mencapai target yang diharapkan, sebagai contoh bila kita mentargetkan dapat memasukan 60% penerbangan kita mencapai waktu 120 detik ternyata model tersebut rata-rata hanya dapat melayang selama 45 detik mengingat bahwa desainnya yang memang kurang mendukung pencapaian prestasi tersebut, khususnya dari aspek aerodinamikanya.

 

      Model glider A2 yang berprestasi tinggi dapat dengan mudah dikenali dari desain sayapnya yans dalam hal ini adalah Aspek Ratio, planform dan struktur penyangganya.

Model yang menulis katagorikan berprestasi tinggi saat ini  mempunyai sayap yang luasnaya mendekati 29 dm persegi dengan bentang sayap lebih panjang atau sama dengan 210 cm. Sayap model seperti ini diperkirakan berasio kelangsingan (Aspek Ratio ) sekitar 15 atau lebih. Planform sayapnya berbentuk doble trapel sehingga mempunyai distribusi gaya anggkat yang hampir seragam, serta konturuksi kerangkanya menggunakan sparcar dan web.

 

Tidak boleh lebih dari 430 gram

           

Dengan model beraspek ratio tinggi (diatas 15) model diharapkan mempunyai kemampuan melayang denga kecepatan turan minimum (minimum sink rate) yang rendah sehingga model dapat melayang dalam waktu lama di udara (endurance). Hal ini didukung denga luas sayapnya yang sekitar 29 dm persegi dan beratnya yang mendekati batas minimum yang diperbolehkan yakni 410 gram. Dengan beban sayap (wing loading ) yang minimum model glider A2 yang berprestasi tinggi akan dapat melayang dengan kecepatan rata-rata 4.5 m/detik atau sekitar 16 cenderung menggunakan metoda pengetriman terbang. Dalam metoda ini model ditarik dengan tali penarik dan kemudian dilepaskan terbang seperti ketika menerbangkan seperti biasa, namun pelayangan model sudah diset hanya sekitar 10 hingga 15 detik saja dengan cara mengatur perangkat dethetmalisernya untuk aktif dalam tempo sekitar 25 detik. Waktu penarikan dalam hal ini diperkirakan adalah sekitar 10 detik.

 Latihan penarikan  

      Berbagai kandisi alam baik kecepatan maupun arah angin serta kondisi areal penerbangan akan sangat mempengruhi penarikan model gliderA2 kita ini. Meskipun demikian, kita sebagai seorang aeromodeler yang mencintai dunia terbang bebas ini tidak boleh terlalu mudah menyerah kalah jika situasinya kurang menguntungkan untuk penarikan model glider A2. Sebagai contoh kecepatan angin yang lambat atau bahkan angin tidak bertiup sama sekali kita memerlukan penarikan model dengan berlari cepat,sedang sebaliknya jika menarik model dengan anginbertiup kencang, mungkin kita malah perlu berjalan mundur ataupun diam ditempat.

 LowSpeed Towing

      Jika angin bertiup cukup kencang yakni berkecepatan sekitar 20 km/jam atau lebih maka maka di tali penarik akan cukup kuat yakni antara 500 gram hingga 1000 gram.jika kondisinya demikian kita sebaiknya mengurangi kecepatan langkah kita bahkan kalau perlu berhenti atau berjalan mundur sambil mengamati penanjakan model kita tersebut. Keterlambatan mengurangi kecepetan penarikan seringkali menyebabkan model mengalami pembebenan yang besar pada sayap serikali patah.

 Circling Flight

      Gider A2 memang selalu ditrim untuk terbang berputar (clicling flight ) gunanya adalah untuk menjaga agar model tidak terlalu jauh melayang selama periode pelayangan yang ditentukan. Di samping itu pelayang putar juga akan membuat model melayang masuk ke dalam daerah thermal yang seringkali tidak terlalu luas cakupannya.

Untuk latihan prestasi kita harus mengatur model glider A2 kita untuk dapat melayang berputar dalam radius sekitar 10 meter dengan sayap yang tidak terlalu “ bank “. Sayap yang terbang dalam kondisi miring (bank) dalam penerbangan berputar cenderung kurang efisien sebab akan bekerja dengan rasio peluncuran efektif (effective lift to drag ratio) yang lebih kecil.

Over Trim Drag

Salah datu gejala yang seering tidak dapat dimengerti oleh para aeromodeler pemula adalah kondisi yang disebut Over Trim Drag. Kondisi ini menunjukan gejala prestasi pelayangan model kita yang merosot drastis akibat kurang singkronnya atau berlebihannya trim pada model. Kalau biasanya kita melihat model kita meluncur dengan rasio 12:1 kemudian di suatu saat kita merasakan model kita cepat sekali turun dan kita cepat sekali turun dan kita perkirakan meluncur dengan rasio yang jauh lebih buruk misalnya 6:1, maka kita dapat memperkirakan gejala over trim drag ini telah terjadi.

      Untuk mengatasi gejala ini kita sebaiknya langsung mengamati sayap dalam arah bentang yang barankali twist ataupun posisi stabilo yang terpasang miring melawan arah perputaran model kita. Dalam beberapa kasus posisi CG yang terlalu kebelakang juga membuat gejala over trim drag ini muncul pada model prestasi tinggi.

Zooming

      Penarikan dengan zoomimg pada akhir lintasan tariknya semula memang ditujukan untuk melontarkan model kita ketinggian yang lebih tinggi ketimbang hanya dilepaskan di ujung tali yang panjangnya tertentu tersebut. Dengan ketinggian yang hanya lebih tinggi diharapkan model akan mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk masuk ke dalam thermal. Namun sayang apabila pelaksanaan zooming tersebut tidak dilaksanakan dengan tepat maka hasilnya bukannya ketinggian yang lebih baik melainkan tandesi model ke arah stall yang justru merugikan.

Anda yang berlatih prestasi sebaiknya mencoba berbagai metoda dan arah lintasan zooming agar hasilnya justru mengantar model mencapai pelayangan maksimal, namun aman.  

Circling Towing

      Juga sebaiknya anda perlu mempelajari penarikan dengan diselingi terbang berputar atau circling towing. Keuntungan dari penggunaan circle tow hook ada-lah tali penarik tidak akan terlepas dari kait jika kita tidak melakukan zooming terakhir. Ini berarti kita masih akan dapat mengulangi penarikan jika model tidak kita lepaskan ke dalam thermal dengan zooming ataupun kita tidak yakin akan adanya thermal di daerah tersebut.

 Tip Stall

      Gejala lain yang kurang menguntungkan namun sering ditemukan pada penerbangan model prestasi tinggi adalah gejala tip stall. Gejala ini sering muncul mengingat bahwa model berprestasi tinggi pada umumnya dirancang untuk mempunyai sayap yang distribusi koefisien gaya angkatnya hampir seragam. Akibatnya apabila terjadi sedikit twist dibagian tepian sayap (wing tip) baik akibat apabila terjadi aerodynamic twist ataupun mechanical twist, maka gejala tip stall akan muncul secara jelas. Salah satu upaya yang biasanya dialkukan untuk mengeliminasi gejala tip stall adalah dengan menunda stall pada bagian sayap tepi dengan perangkat turbulator ataupun dengan memberi sedikit wash out. 

Spiral dive

      Gangguan lain yang tak kalah konyol adalah gejala yang disebut sebagai Spiral Dive atau menukik dengan lintasan spiral. Pada umumnya gejala ini muncul apabila model terlalu dipaksa untuk berputar dalam radius kecil.  Biasanya dengan pembelokan rudder yang terlalu besar ataupun kurang proporsional dibandingkan dengan posisi stsabilo maka gejala spiral dive ini terjadi. Metoda yang biasanya dipergunakan untuk menetralisir gejala ini adalah dengan mengurangi belokan rudder dan atau mengurangi sudt pasang stabilo model sedikit “up”.

Berlatih Mendeteksi Thermal

      Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya dalam latihan prestasi menerbangkan glider A2 adalah berlatih mendeteksi kehadiran thermal. Dengan sedikit mengenal tanda-tanda kehadiran thermal seperti halnya dijabarkan di halaman 122 buku “ Merancang, Membuat dan Menerbangkan Pesawat Layang Model” tebitan gramedia, seorang penerbang glider A2 berprestasi tinggi akan semakin mudah menerbangkannya modelnya hingga waktu maksimum. Penulis bahkan pernah mencoba menerbangkan model A2 jam 17.15 sore hari ketika gejala kehadiran therm muncul walau sebenarnya tidak terlalu kuat. Hasilnya.

Berlatih dengan partner

Memang salahsatu hal yang dianjurkan dalam latihan glider A2 adalah berlatih dengan partner, dengan adanya rekan yang juga dapat mengevaluasi prestasi anda pada saat latihan.

 

 

Aeromodelling Indonesia - PB FASI
Copyright © 2005-2017. All Rights Reserved
.